Konsep Filsafat Pendidikan Progresivisme dan Implementasinya Dalam PAI
A. PENDAHULUAN
Kurikulum adalah merupakan faktor yang sangat penting dalam proses kependidikan Islam dalam suatu pendidikan Islam. Segala hal yang harus diketahui atau diresapi serta dihayati oleh anak didik harus ditetapkan dalam kurikulum itu. Juga segala yang harus dijabarkan didalam kurikulum. kurikulum bukan sekedar rangkaian ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam kelas, melainkan menyangkut juga semua hal yang mempengaruhi proses belajar mengajar.
Filsafat pendidikan adalah dasar yang paling fundamental dari sebuah rancangan konsep, dan filsafat pendidikan itu adalah pelaksanaan pandangan dan kaidah filsafat dalam bidang pendidikan yang menentukan prinsip-prinsip kepercayaan terhadap berbagai masalah pendidikan[1]. Dari fungsi filsafat pendidikan dapat dilihat kaitan antara kurikulum dan filsafat pendidikan, dimana perbedaan paham juga mempengaruhi perbedaan filsafat pendidikan itu.
Di dalam kajian filsafat pendidikan banyak sekali aliran filsafat yang membahas tentang pendidikan salah satunya adalah progresivisme. Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat yang berdiri sendiri melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Progresivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus terpusat padaanak (Child Centered) bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
B. Latar Belakang
1. Jelaskan latar belakang munculnya filsafat pendidikan progresivisme!
2. Bagaimana konsep kurikulum progresivisme?
3. Bagaimana implikasi konsep kurikulum progresivisme dalam PAI?
C. PEMBAHASAN
FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME
I. Latar Belakang Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme berasal dari bahas inggris yaitu “Progress” artinya kemajuan. Dalam kamus sosiologi dan kependudukan dijelaskan bahwa progressive adalah gerakan yang berusaha memperbaiki masyarakat dengan mengadakan perubahan-perubahan positif dalam lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi[2]. Jadi progresivisme pada prinsipnya merupakan kata yang mempunyai makna mendalam bagi diri seseorang demi kemajuan dan perbaikan dalam segala hal.
Progresivisme merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918, dan selama dua puluh tahunan progresivissme merupakan suatu gerakan yang kuat di Amerika Serikat. Gerakan progressivisme terkenal luas karena reaksinya terhadap formalime dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras, belajar pasif, dan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam pendidikan.
Konsep dasar filsafat progressivisme yaitu manusia dalam hidupnya untuk tetap survive terhadap semua tantangan, harus pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya. Progressivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang. Karena menurutnya pendidikan yang otoriter dapat diperkirakan mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan, sebab kurang menghargai dan memberikan tempat semestinya kepada kemampuan-kemampuan tersebut dalam proses pendidikan[3].
Filsafat progressivisme merupakan The Liberal Road of Culture ( kebebasan mutlak menuju kebudayaan ), yaitu nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel ( lentur dan tidak kaku) terhadap perubahan, toleran dan terbuka sehingga menuntut untuk selalu maju bertindak secara konstruktif, inovatif, reformatif, aktif dan dinamis[4].
Tokoh-tokoh Progressivisme
Filsafat pendidikan progressivisme muncul dengan jelas pada abad ke 20, tetapi akar perkembangan progressivisme dapat dilacak hinggah tokoh-tokoh filosof Yunani seperti:
a) Heraklitus ( 544-484 SM ).
Akar progressivisme dapat terbaca pada salah satu pemikirannya yaitu: “sifat yang terutama dalam realita adalah perubahan, tidak ada sesuatu yang tetap didunia ini, semuanya berubah-ubah kecuali asas perubahan itu sendiri.” Dengan berlandaskan pada konsep “segala sesuatu berubah”, dapat dimaknai bahwa dengan perubahan itu itu akan tercipta kemajuan atau progresivitas.
b) Jean Jaques Rousseue ( 1721-1778 )
Menurutnya manusia yanng lahir ebagai makhluk yang baik, artinya kebaikan berada dalam manusia melulu, karena kodrat yang baik dari para manusia. Oleh karena itu pastilah ia menghendaki kemajuan.
c) Hegel, Ia mengajarkan bahwa alam dan masyarakat bersifat dinamis, selamanya berada dalam keadaan gerak, dalam proses penyesuaian yang tak ada hentinya.
Adapun tokoh-tokoh filsafat progresivisme abad ke 20 diantaranya adalah:
a) William James ( 1842-1910 )
William James adalah seorang psychologist dan filosof amerika yang terkenal. Ia juga penulis yang briant, Selain itu ia juga seorang dosen, penceramah dibidang filsafat, dan dikenal sebagai pendiri pragmatissme. Buku karangan William James yang berjudul Princile of Psichology yang terbit pada tahun 1890 membahas dan menegaskan mengenai ide-ide fungsi otak dan pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam dengan cepat menjadi buku klasik dalm bidang itu, inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsaft pragmatisme dan empirisme radikal.
b) John Dewey (1859-1952)
John Dewey adalah seorang professor di universitas Chicago dan Columbia. Tori Dewey tentang sekolah adalah “progressivisme” yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya. dari pada mata pelajarannya sendiri, sehingga muncullah “Child Centered” dan “Child Centered School.”. Adapun ide filsafatnya yang utama berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit, baik teori maupun praktek.
c) Chales S. Peirce, ia mengemukakan teori pikiran dan hal berpikir, “ pikiran itu hanya berarti bagi manusia apabila pikiran itu bekerja, yaitu memberikan pengalaman (hasil) baginya. Fungsi pikir tidak lain daripada membiasakan manusia untuk berbuat[5].
II. Konsep Kurikulum Progresivisme
a. Konsep kurikulum
Secara etimologi, terma kurikulum berasal dari dari bahasa yunani, yaitu curir yang berarti pelari, dan curere yang artinya tempat berpacu. Istilah kurikulum yang diambil pada zaman Romawi Kuno (Yunani) mengandung pengertian jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai garis finish, dan istilah ini kemudian digunakan untuk sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai gelar dalam dunia pendidikan.[6]
Sedangkan pengertian kurikulum Menurut UU. No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS yaitu, seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapapai tujuan pendidikan tertentu.[7]
Seorang tokoh progrevisme yang bernama Rugg menyatakan bahwa kurikulum yang tepat ialah, yang mempunyai nilai edukatif.
b. Konsep kurikulum Progresivisme
Progresivisme merupakan suatu istilah yang identik dengan perubahan dan kemajuan. Pendidikan progresivisme senantiasa berorientasi kepada perubahan yang diikuti dengan adanya kemajuan dan tentunya perubahan yang lebih baik daripada sebelumnya. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup yang bersifat fleksibilitas (tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh doktrin tertentu), curious (ingin mengetahui dan menyelidiki), toleran dan open minded.
Menurut pandangan progresivisme kurikulum itu pengalaman edukatif, bersifat eksperimental, dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Berdasarkan pandangannya tentang kurikulum, maka filsafat progresivisme menghendaki kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya, dan fleksibelitas ini dapat membuka kemungkinan bagi pendidik untuk untuk memperhatikan anak didik dengan sifat-sifat dan kebutuhannya masing-masing sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setempat.
Oleh karena sifat kurikulum progresivisme yang dapat direvisi, maka jenis yang memadai adalah kurikulum yang “berpusat pada pengalaman”. Atau tipe core curriculum, dimana apa yang telah diperoleh anak didik selama sekolah akan diterapkan dalam kehidupan nyatanya. Metode pendidikan ‘Learning by doing” atau belajar sambil berbuat dan “problem solving” atau pemecahan masalah.
Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dengan unit., ini sesuai degan core curriculum yang mengandung integrated curriculum, dan metode yanng diutamakan yaitu problem solving[8]..Dengan adanya mata pelajaran yanng terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik, maupun pskis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Tujuan Pendiidkan Islam
Dasar pendidikan adalah pandangan hidup yang mendasari seluruh aktifitas pendidikan. Karena dasar menyangkut masalah ideal dan fundamental, maka diperlukan landasan pandangan hidup yang kokoh dan komprehensif, serta tidak mudah berubah. Untuk menentukan dasar pendidikan diperlukan jasa filsafat pendidikan dan teologi seorang muslim.
Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, menjabarkan tujuan pendidikan Islam menjadi:
1). Tujuan yang berkaitan dengan individu yang mencakup perubahan berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani, dan rohani, dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.
2). Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat yang mencakup tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, serta memperkaya pengalaman masyarakat.
3). Tujuan professional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagian ilmu, seni, profesi dan kegiatan masyarakat.
Implementasi kurikulum progresivisme dalam PAI
Strategi atau pola pelaksanaan kurikulum terintegrasi pada pendidikan magama islam dapat dialokasikan sebagai berikut:
1. Pola sistem madrasah negeri.
Yaitu diimplikasikan dengan mengikuti pola kurikulum sekolah umum. Dalam hal ini, belajar agama dan sains secara seimbang.
2. Pola program kecakapan hidup(life skill)
Pada pola ini, madrasah memfasilitasi anak didik yang mempunya minat dan kemampuan tertentu untuk mengikuti program studi keterampilan.
3. Evaluasi belajar dilakuakan dengan mengukur sikap dan prilaku keagamaan siswa.
4. Pola program penyuluhan dan bimbingan.
Pada program ini anak didik secara bergilir didik bersama-sama dengan komunitas industri, atau membaur dengan masyarakat pengrajin yang relevan bagi kehidupan di masa yang akan datang.
KESIMPULAN
Konsep dasar filsafat progressivisme yaitu manusia dalam hidupnya untuk tetap survive terhadap semua tantangan, Filsafat progressivisme bersifat fleksibel (lentur dan tidak kaku) terhadap perubahan, toleran dan terbuka sehingga menuntut untuk selalu maju bertindak secara konstruktif, inovatif, reformatif, aktif dan dinamis. Tokoh-tokoh filsafat progresivisme yaitu Heraklitus, Jean Jaques Rousseue, Hegel, William James, John Dewey, Chales S. Peirce.
Menurut pandangan progresivisme kurikulum itu pengalaman edukatif, bersifat eksperimental, dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Kurikulum progresivisme adalah kurikulum yang “berpusat pada pengalaman”. Dimana apa yang telah diperoleh anak didik selama sekolah akan diterapkan dalam kehidupan nyatanya. Metode pendidikan ‘Learning by doing” atau belajar sambil berbuat dan “problem solving” atau pemecahan masalah.
[1] Abdurrahmansyah, Muhammad Fauzi, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Adama Islam, Palembang, CV. Grafika Telindo, 2003, hlm. 6
[3] Irvan Jaya Mursid, Aliran Filsafat Pendidikan Progresivisme, Online, http://van88.wordpress.com/aliran-filsafat-pendidikan-progresivisme/
[4] Tyas, Filsafat Pendidikan Islam, Online, ( http://tyas7as.wordpress.com/2010/09/28/makalah-filsafat-pendidikan-progressivisme/ )
[5]http://digilib.sunan-ampel.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptiain--rizanulcha-8235
[6] Abdurahmansyah, Muhammad Fauzi, Loc.cit., hal. 1
[8]Mirna Ferdyawati, Progresivisme, Online, ( http://mirnaferdiyawati-uin-bi 2b.blogspot.com/2008/05/progresivisme.html )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar