Photobucket

Jumat, Mei 13, 2011


Konsep Filsafat Pendidikan Progresivisme dan Implementasinya Dalam PAI
A.    PENDAHULUAN
Kurikulum adalah merupakan faktor yang sangat penting dalam proses kependidikan Islam dalam suatu pendidikan Islam. Segala hal yang harus diketahui atau diresapi serta dihayati oleh anak didik harus ditetapkan dalam kurikulum itu. Juga segala yang harus dijabarkan didalam kurikulum. kurikulum bukan sekedar rangkaian ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam kelas, melainkan menyangkut juga semua hal yang mempengaruhi proses belajar mengajar.
Filsafat pendidikan adalah dasar yang paling fundamental dari sebuah rancangan konsep, dan filsafat pendidikan itu adalah pelaksanaan pandangan dan kaidah filsafat dalam bidang pendidikan yang menentukan prinsip-prinsip kepercayaan terhadap berbagai masalah pendidikan[1]. Dari fungsi filsafat pendidikan dapat dilihat kaitan  antara kurikulum dan filsafat pendidikan, dimana perbedaan paham juga mempengaruhi perbedaan filsafat pendidikan itu.
Di dalam kajian filsafat pendidikan banyak sekali aliran filsafat yang membahas tentang pendidikan salah satunya adalah progresivisme. Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat yang berdiri sendiri melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Progresivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus terpusat padaanak (Child Centered) bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.



B.     Latar Belakang
1.      Jelaskan latar belakang munculnya filsafat pendidikan progresivisme!
2.      Bagaimana konsep kurikulum progresivisme?
3.      Bagaimana implikasi konsep kurikulum progresivisme dalam PAI?





C.    PEMBAHASAN
FILSAFAT PENDIDIKAN PROGRESIVISME

I.                   Latar Belakang Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme berasal dari bahas inggris yaitu “Progress” artinya kemajuan. Dalam kamus sosiologi dan kependudukan dijelaskan bahwa progressive adalah gerakan yang berusaha memperbaiki masyarakat dengan mengadakan perubahan-perubahan positif dalam lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi[2]. Jadi progresivisme pada prinsipnya merupakan kata yang mempunyai makna mendalam bagi diri seseorang demi kemajuan dan perbaikan dalam segala hal.
Progresivisme merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918, dan selama dua puluh tahunan progresivissme merupakan suatu gerakan yang kuat di Amerika Serikat. Gerakan progressivisme terkenal luas karena reaksinya terhadap formalime dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan disiplin keras, belajar pasif, dan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam pendidikan.
 Konsep dasar filsafat progressivisme yaitu manusia dalam hidupnya untuk tetap survive terhadap semua tantangan, harus pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya. Progressivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang. Karena menurutnya pendidikan yang otoriter dapat diperkirakan mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan, sebab kurang menghargai dan memberikan tempat semestinya kepada kemampuan-kemampuan tersebut dalam proses pendidikan[3].
Filsafat progressivisme merupakan The Liberal Road of Culture ( kebebasan mutlak menuju kebudayaan ), yaitu nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel ( lentur dan tidak kaku) terhadap perubahan, toleran dan terbuka sehingga menuntut untuk selalu maju bertindak secara konstruktif, inovatif, reformatif, aktif dan dinamis[4].

Tokoh-tokoh Progressivisme
Filsafat pendidikan progressivisme muncul dengan jelas pada abad ke 20, tetapi akar  perkembangan progressivisme dapat dilacak hinggah tokoh-tokoh filosof Yunani seperti:
a)      Heraklitus ( 544-484 SM ).
Akar progressivisme dapat terbaca pada salah satu pemikirannya yaitu: “sifat yang terutama dalam realita adalah perubahan, tidak ada sesuatu yang tetap didunia ini, semuanya berubah-ubah kecuali asas perubahan itu sendiri.” Dengan berlandaskan pada konsep “segala sesuatu berubah”, dapat dimaknai bahwa dengan perubahan itu itu akan tercipta kemajuan atau progresivitas.
b)      Jean Jaques Rousseue ( 1721-1778 )
Menurutnya manusia yanng lahir ebagai makhluk yang baik, artinya kebaikan berada dalam manusia melulu, karena kodrat yang baik dari para manusia. Oleh karena itu pastilah ia menghendaki kemajuan.
c)      Hegel, Ia mengajarkan bahwa alam dan masyarakat bersifat dinamis, selamanya berada dalam keadaan gerak, dalam proses penyesuaian yang tak ada hentinya.
Adapun tokoh-tokoh filsafat progresivisme abad ke 20 diantaranya adalah:
a)      William James ( 1842-1910 )
William James adalah seorang psychologist dan filosof amerika yang terkenal. Ia juga penulis yang briant, Selain itu ia juga seorang dosen, penceramah dibidang filsafat, dan dikenal sebagai pendiri pragmatissme. Buku karangan William James yang berjudul Princile of Psichology  yang terbit pada tahun 1890 membahas dan menegaskan mengenai ide-ide fungsi otak dan pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam dengan cepat menjadi buku klasik dalm bidang itu, inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsaft pragmatisme dan empirisme radikal.
b)      John Dewey (1859-1952)
John Dewey adalah seorang professor di universitas Chicago dan Columbia. Tori Dewey tentang sekolah adalah “progressivisme” yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya. dari pada mata pelajarannya sendiri, sehingga muncullah “Child Centered” dan “Child Centered School.”. Adapun ide filsafatnya yang utama berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit, baik teori maupun praktek.
c)      Chales S. Peirce, ia mengemukakan teori pikiran dan hal berpikir, “ pikiran itu hanya berarti bagi manusia apabila pikiran itu bekerja, yaitu memberikan pengalaman (hasil) baginya. Fungsi pikir tidak lain daripada membiasakan manusia untuk berbuat[5]

II.                Konsep Kurikulum Progresivisme
a.      Konsep kurikulum
Secara etimologi, terma kurikulum berasal dari dari bahasa yunani, yaitu curir yang berarti pelari, dan curere yang artinya tempat berpacu. Istilah kurikulum yang diambil pada zaman Romawi Kuno (Yunani) mengandung pengertian jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai garis finish, dan istilah ini kemudian digunakan untuk sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai gelar dalam dunia pendidikan.[6]
Sedangkan pengertian kurikulum Menurut UU. No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS yaitu, seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapapai tujuan pendidikan tertentu.[7]
Seorang tokoh progrevisme yang bernama Rugg menyatakan bahwa kurikulum yang tepat ialah, yang mempunyai nilai edukatif.
b.      Konsep kurikulum Progresivisme
Progresivisme merupakan suatu istilah yang identik dengan perubahan dan kemajuan. Pendidikan progresivisme  senantiasa berorientasi kepada perubahan yang diikuti dengan adanya kemajuan dan tentunya perubahan yang lebih baik daripada sebelumnya. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan.  Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup yang bersifat fleksibilitas (tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh doktrin tertentu), curious (ingin mengetahui dan menyelidiki), toleran dan open minded.
Menurut pandangan progresivisme kurikulum itu pengalaman edukatif, bersifat eksperimental, dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Berdasarkan pandangannya tentang kurikulum, maka filsafat progresivisme menghendaki kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya, dan fleksibelitas ini dapat membuka kemungkinan bagi pendidik untuk untuk memperhatikan anak didik dengan sifat-sifat dan kebutuhannya masing-masing sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setempat.
Oleh karena sifat kurikulum progresivisme yang dapat direvisi, maka jenis yang memadai adalah kurikulum yang “berpusat pada pengalaman”. Atau tipe core curriculum, dimana apa yang telah diperoleh anak didik selama sekolah akan diterapkan dalam kehidupan  nyatanya. Metode pendidikan ‘Learning by doing” atau belajar sambil berbuat dan “problem solving” atau pemecahan masalah.
Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dengan unit., ini sesuai degan core curriculum  yang mengandung integrated curriculum, dan metode yanng diutamakan yaitu problem solving[8]..Dengan adanya mata pelajaran yanng terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik, maupun pskis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Tujuan Pendiidkan Islam
Dasar pendidikan adalah pandangan hidup yang mendasari seluruh aktifitas pendidikan. Karena dasar menyangkut masalah ideal dan fundamental, maka diperlukan landasan pandangan hidup yang kokoh dan komprehensif, serta tidak mudah berubah. Untuk menentukan dasar pendidikan diperlukan jasa filsafat pendidikan dan teologi seorang muslim.
Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, menjabarkan tujuan pendidikan Islam menjadi:
1). Tujuan yang berkaitan dengan individu yang mencakup perubahan berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani, dan rohani, dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.
2). Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat yang mencakup tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, serta memperkaya pengalaman masyarakat.
3). Tujuan professional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagian ilmu, seni, profesi dan kegiatan masyarakat.

Implementasi kurikulum progresivisme dalam PAI
Strategi atau pola pelaksanaan kurikulum terintegrasi pada pendidikan magama islam  dapat dialokasikan sebagai berikut:
1.      Pola sistem madrasah negeri.
Yaitu diimplikasikan dengan mengikuti pola kurikulum sekolah umum. Dalam hal ini, belajar agama dan sains secara seimbang.
2.      Pola program kecakapan hidup(life skill)
Pada pola ini, madrasah memfasilitasi anak didik yang mempunya minat dan kemampuan tertentu untuk mengikuti program studi keterampilan.
3.      Evaluasi belajar dilakuakan dengan mengukur sikap dan prilaku keagamaan siswa.
4.      Pola program penyuluhan dan bimbingan.
Pada program ini anak didik secara bergilir didik bersama-sama dengan komunitas industri, atau membaur dengan masyarakat pengrajin yang relevan bagi kehidupan di masa yang akan datang.





KESIMPULAN
Konsep dasar filsafat progressivisme yaitu manusia dalam hidupnya untuk tetap survive terhadap semua tantangan, Filsafat progressivisme  bersifat fleksibel (lentur dan tidak kaku) terhadap perubahan, toleran dan terbuka sehingga menuntut untuk selalu maju bertindak secara konstruktif, inovatif, reformatif, aktif dan dinamis. Tokoh-tokoh filsafat progresivisme yaitu Heraklitus, Jean Jaques Rousseue, Hegel, William James, John Dewey, Chales S. Peirce.
Menurut pandangan progresivisme kurikulum itu pengalaman edukatif, bersifat eksperimental, dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Kurikulum progresivisme adalah kurikulum yang “berpusat pada pengalaman”. Dimana apa yang telah diperoleh anak didik selama sekolah akan diterapkan dalam kehidupan  nyatanya. Metode pendidikan ‘Learning by doing” atau belajar sambil berbuat dan “problem solving” atau pemecahan masalah.












[1] Abdurrahmansyah, Muhammad Fauzi, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Adama Islam, Palembang, CV. Grafika Telindo, 2003, hlm. 6
                [2] Ibid., hlm. 1
[3] Irvan Jaya Mursid, Aliran Filsafat Pendidikan Progresivisme, Online, http://van88.wordpress.com/aliran-filsafat-pendidikan-progresivisme/

[4] Tyas, Filsafat Pendidikan Islam, Online, ( http://tyas7as.wordpress.com/2010/09/28/makalah-filsafat-pendidikan-progressivisme/ )

[5]http://digilib.sunan-ampel.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptiain--rizanulcha-8235
[6] Abdurahmansyah, Muhammad Fauzi, Loc.cit., hal. 1
[7] Karoma, Diktat Pengembangan Kurikulum dan Sistem Pembelajaran( Lampung, 2004 ),  hlm. 10
[8]Mirna Ferdyawati, Progresivisme, Online, ( http://mirnaferdiyawati-uin-bi 2b.blogspot.com/2008/05/progresivisme.html )

Kamis, Mei 12, 2011

MAKALAH BIMBINGAN DAN KONSELING


AGAMA DAN PSIKOLOGI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING 
Oleh : Rian Dini Mardhotillah.   
Pendahuluan
Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling ( face to face) oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu/ kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.[1]
Dalam memberikan bantuan kepada klien konselor tidak boleh mengabaikan unsur agama dan aspek psikologi. Agama merupakan kebutuhan fitrah setiap individu. Bahkan pada ajaran Islam, sumber kejiwaan agama seseorang sudah ada sejak manusia itu dalam kandungan. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. Al- A’raf : 172
Artinya:Dan (ingatlah) Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat nanti kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Q. S. Al- A’raf: 72)
Manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, dan apabila ada diantara kebutuhan itu tidak terpenuhi maka akan terjadi goncangan-goncangan kejiwaan, oleh karena itu pada makalah ini kami akan membahas mengenai peran agama dan psikologi dalam kegiatan bimbingan dan konseling.

B.     Pembahasan
                               I.            Pengertian Agama, Psikologi, Bimbingan dan konseling
a.    Pengertian Agama
Menurut Syahminan Zaini, yang dikutip oleh Rohmalina Wahab, ada tiga pendapat mengenai asal kata agama, yaitu:
1.      Berasal dari bahasa sangsakerta, a = tidak, gama = kacau. Jadi agama berarti tidak kacau.
2.      Berasal dari bahasa sangsakerta, asal katanya gam = jalan. Kata “gam” masih ada hubungannya dengan bahasa Inggris ( to go ), bahasa Jerman ( geben ) dan bahasa Belanda gam = pergi. Jadi agama artinya jalan yang harus diikuti sehingga dapat sampai ke suatu tujuan yang mulia dan suci, interprestasi lainnya agama berasal dari kata a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap ditempat atau diwarisi turun temurun.
3.      Berasal dari bahasa Arab, yaitu Iqoma kemudian berubah menjadi agama, Dalam bahasa Indonesia, kata-kata yang berasal dari huruf qof  biasanya menjadi kaf,  seperti                  menjadi akal,        menjadi Kasim dll.[2]
4.      Selanjutnya Harun Nasution mengemukakan bahwasannya agama berasal dari kata  , religi dan agama. dalam bahasa Semit berarti undang-undang ( hukum ), dalam bahasa Arab             berarti menguasai, menunjukkan, patuh, hutang, balasan dan kebiasaan. Sedangkan religi berasal dari bahasa Latin, yang berarti mengumpulkan atau membaca, adapun agama mengandung arti tidak pergi, tetap ditempat, atau diwarisi secara turun temurun[3].
Dari beberapa definisi yang berkembang diatas dapat disimpulkan bahwa agama adalah ikatan yang kokoh yang berupa keyakinan yang dapat membawa kepada jalan yang lurus serta menunjukkan kepada suatu tujuan untuk mencapai ketenangan dan kemantapan hati serta kebahagiaan.
b.   Pengertian Psikologi
Psikologi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata psyhe yang artinya jiwa, dan logos artinya ilmu. Jadi psikologi secara istilah ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa dan perilaku manusia.
c.       Pengertian bimbingan dan konseling
          Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama bahwasannya secara terminologi bimbingan dan konseling itu terdiri dari dua kata, yaitu bimbingan yang merupakan terjemahan dari “guidance” dan konseling  yang berasal dari kata “conseling”. [4]
§  Pengertian Bimbingan
          Prayitno dan Emran Amril mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh oranng yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, agar orang yang dapat mengembangan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan dengan norma-norma yang berlaku.[5]  Selanjutnya Miller mengemukakan bahwa bimbingan adalah sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum disekolah, keluarga dan masyarakat.[6]
Pengertian bimbingan yang telah dikemukakan oleh Prayitno, Emran dan Winkel senada dengan pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya yang dikutip oleh Ermis Suryana didalam bukunya Bimbingan dan Konseling Di Sekolah yaitu, bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat.[7]
Dari beberapa pendapat mengenai pengertian bimbingan diatas, maka dapat diambil kesimpulan  bahwa bimbingan adalah  suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan secara berkesinambungan kepada seseorang atau peserta didik agar orang-orang yang dibimbing dapat memahami dirinya, menerima dirinya, mengarahkan dirinya serta dapat merealisasikan dirinya sesuai dengan kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat).
§  Pengertian Konseling
Seperti yang telah kita pahami bahwasannya yang disebut dengan konseling adalah usaha membantu klien atau anak didik secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sensiri terhadap persoalan atau masalah khusus.
Menurut Leona E. Tylor, yang dikutip Fenti Hikmawati, ada lima karakteristik yang sekaligus merupakan prinsip-prinsip konseling, yaitu:
a.       Konseling tidak sama dengan pemberian nasehat ( advicement  ).
b.      Konseling mengusahakan perubahan-perubahan yang bersifat fundamental yang berkenaan dengan pola-pola hidup.
c.       Konseling lebih menyangkut sikap daripada perbuatan atau tindakan.
d.      Konseling lebih berkenaan dengan penghayatan emosional daripada pemecahan intelektual.
e.       Konseling menyangkut juga hubungan klien dengan orang lain.[8]

                            II.            Peran Agama dalam Bimbingan dan Konseling
Manusia sejak dahulu dikenal dengan sebutan “human religioun” atau makhluk beragama oleh karena itu manusia memiliki naluri agama, sebenarnya sudah menjadi fitrah manusia yang secara naluriah merindukan Tuhan pencipta alam, bahkan sejak dari nabi Adam sampai sekarang ini walaupun dalam kualitas yang berbeda-berbeda manusia senantiasa terkait dengan kepercayaan kepada sesuatu yang ghaib yang dipandang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan.
Jadi agama merupakan sifat manusia yang tidak dapat dipisahkan dari manusia, karena agama merupakan kebutuhan fitrah bagi setiap manusia, sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an surat Ar-Rum : 30
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrahnya itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(  Itulah ) agama lurus,, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Manusia memiliki beberapa macam kebutuhan, yakni kebutuhan primer dan kebutuhan rohaniah, dan apabila salah satu kebutuhan itu tidak terpenuhi maka akan terjadi krisis kejiwaan seperti merasa tidak enak, gelisah dan kecewa. Maka jalan utama untuk menyelamatkan manusia dari berbagai krisis kejiwaan adalah dengan agama[9], karena di dalam agama terdapat kebutuhan-kebutuhan jiwa manusia, dan kebutuhan-kebutuhan manusia itu hanya akan tercapai dengan melaksanakan ajaran agama.
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling konselor harus memperhatikan kehidupan spritual klien, karena kondisi kejiwaan manusia sangat dipengaruhi oleh agama, dan unsur-unsur agama itu harus dimanfaatkan oleh seorang konselor untuk mencapai kesuksesan dan sebagai upayanya dalam membahagiakan klien. Berdasarkan hal ini maka peran agama dalam bimbingan dan konseling menurut HM. Arifin dan Jalauddin yang dikutip Ermis Suryana, yaitu:
1.      Agama berperan sebagai penenang jiwa, ketika individu dihadapkan pada suatu masalah maka akan terjadi konflik pada hatinya dan suasana hati dan pikirannya tidak menentu, peran agama disini individu dituntut untuk mandiri kepada Tuhannya karena akan memberi ketenangan dalam dirinya dan mampu mengatasi masalahnya.
2.      Agama berperan sebagai motivator untuk memiliki sikap dan tingkah laku sesuai dengan tuntunan agama.[10]
3.      Agama berperan sebagai edukatif.
4.      Agama berperan sebagai sosial kontrol.
5.      Agama berperan sebagai kreator.[11]
Pada diri konselor juga ada benih-benih agama, sehingga dalam pelayanan bimbingan dan konseling dapat dikaitkan dengan agama yang filosofinya didasarkan atas al-Qur’an dan Sunnah[12], dan dengan demikian konselor dapat mengarahkan individu ke arah agamanya, yaitu agama Islam. Proses pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam Islam, tentunya juga membawa kepada peningkatan iman, ibadah dan jalan hidup yang di ridai Allah SWT.

                         III.            Peran Psikologi Dalam Bimbingan dan Konseling
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari atau mengkaji sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaannya. Dalam kegiatan bimbingan dan konseling aspek psikologis tidak boleh diabaikan, karena peran psikologi dalam kegiatan bimbingan dan konseling adalah memberikan pemahaman tingkah laku individu yang menjadi sasaran layanan.
Hal ini sesuai dengan bidang garapan bimbingan dan konseling itu sendiri yaitu, tingkah laku klien, tingkah laku klien disini yaitu, tingkah laku yang perlu diubah atau dikembangkan apabila ia hendak mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya atau ingin mencapai tujuan-tujuan yang dikehendakinya.[13]
            Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling, seorang konselor itu harus betul-betul memahami tingkah laku klien atau anak didiknya, karena setiap individu atau anak didik itu memiliki tingkah laku yang beranekaragam. Dengan memahami tingkah laku individu atau klien dengan tepat maka akan mempermudah konselor dalam memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh klien. Berdasarkan hal ini peran psikologi dalam bimbingan dan konseling yaitu:
1.      Psikologi sebagai metode dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh klien.
2.      Psikologi sebagai diagnosis masalah yang tepat sesuai dengan karakter klien dan kejiwaan klien.
3.      Psikologi sebagai motivator kepada klien untuk tumbuh dan berkembang secara mandiri dalam menghadapi masalah sendiri.
4.      Psikologi sebagai pengevaluasi atas solusi masalah yang dihadapi klien, sudah secara maksimal atau belum.
Ada beberapa kajian psikologi yang harus dikuasai oleh konselor dalam proses bimbingan dan konseling, yaitu:
1.    Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang untuk berprilaku, baik itu motif primer ( Kebutuhan yang dimiliki individu semenjak lahir) maupun motif skunder ( Motif yang terbentuk dari hasil belajar ).
Motif yang telah berkembang pada individu dapat diaktifkan dan digerakkan, baik dalam diri individu (motivasi intrinstik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik), menjadi bentuk perilaku instrumen atau aktifitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan
2.    Pembawaan dan Lingkungan
Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir yang mencakup psiko dan fisik. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda, dan pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan  dan mengoptimalkannya bergantung pada lingkungan dimana  individu itu berada.
Menurut F.B. Hurlock, yang dikutip oleh Ermis Suryana, konselor perlu memandang apa-apa yang terdapat didalam pembawaan sebagai modal atau asetyang harus ditumbuh kembangkan secara optimal[14]. Jadi konselor itu harus memahami seberapa besar modal atau aset ( potensi ) yang dimiliki oleh klien atau anak didik dan mengupayakan pengaturan lingkungan untuk mengembangkan aset itu sambil meningkatkan motivasi klien untuk berbuat searah dengan penumbuh-kembangkan asetnya itu.
3.      Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa prenatal sampai akhir hayatnya. Tugas-tugas perkembangan individu dibentuk dan dipengaruhi oleh dorongan biologis dan kultural.
Dalam menjalankan tugasnya konselor menghadapi individu-individu yang sedang berkembang, maka dari itu. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individunya, sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan., serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan.
4.      Belajar
Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup, tanpa belajar seseorang tidak dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan kemnusiannya.  Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang bari itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.  Hasil yang diperoleh dari belajar hendaknya dapat diketahui dan diukur untuk mengetahui seberapa jauh kesuksesannya dalam upaya belajar.
Beberapa teori belajar yang telah dikembangkan oleh para ahli, yaitu:
1.      Teori belajar Psikologi Behavioristik
2.      Teori belajar Psikologi Kognitif
3.      Teori belajar Psikologi Humanistik[15]
5.      Kepribadian
Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang sangat menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kepribadian juga bisa diartikan penyesuaian diri.
Tugas konselor dalam hal  kepribadian adalah adalah mengoptimalkan perkembangan dan pendayagunaan ciri kepribadian individu kearah hal-hal yang positif yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan individu yang bersangnkutan.
                         IV.            Tes Psikologi Merupakan Bagian dalam Bimbingan dan Konseling
Sebagaimana yang telah kita pahami bahwa yang dimaksud dengan tes adalah suatu alat yang sudah distandarisasikan untuk mengukur salah satu sifat, kecakapan atau tingkah laku dengan cara mengukur sesuai dengan sampel dari sifat, kecakapan atau tingkah laku[16]. testing merupakan suatu metode penelitian psikologis untuk memperoleh informasi informasi tentang berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan bathin seseorang.
Tes psikologi dipergunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat potensi seperti: intelegensi, bakat, minat, kepribadian, sikap, dan lain sebagainya. Akan tetapi, pengukuran dibidang non fisik-khususnya dibidang psikologi masih berada dalam tarap perkembangan atau bahkan mungkin tidak akan mencapai kesempurnaannya. Beberapa test dan skala 

C.    KESIMPULAN
Agama adalah kebutuhan fitrah setiap manusia, dan psikis juga merupakan kebutuhan manusia, jadi dalam kegiatan bimbingan dan konseling harus memperhatikan aspek-aspek kebutuhan klien. Peran agama dalam kegiatan bimbingan dan konseling adalah sebagai penenang jiwa dan sebagai motivasi.
Peran psikologi dalam kegiatan bimbingan dan konseling adalah sebagai metode dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh klien, sebagai diagnosis masalah yang tepat sesuai dengan karakter klien dan kejiwaan klien, sebagai motivator kepada klien untuk tumbuh dan berkembang secara mandiri dalam menghadapi masalah sendiri dan sebagai pengevaluasi atas solusi masalah yang dihadapi klien, sudah secara maksimal atau belum.
Ada lima aspek psikologi yang harus dikuasai ole konselor yaitu, motif dan motivasi, pembawaan dan Lingkungan, Perkembangan Individu, belajar dan kepribadian. Tes psikologi merupakan bagian dalam bimbingan dan bonseling.


[1] Arya, Pengertian Bimbingan dan Konseling, (http://belajarpsikologi.com/pengertian bimbingan-dan-konseling/ )
[2] Rohmalina Wahab, Psikologi Agama, ( Palembang: Grafika Telindo Press, 2010 ), hlm. 1
[3]  Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Beberapa Aspeknya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm. 9-10
[4]  Ermis Suryana, Bimbingan dan Konseling Di Sekolah, (Palembang: Grafika Telindo press, Edisi Revisi 2010),  hlm. 1
[5] Zainal Abidin, Bimbingan dan Konseling, (http://www.scribd.com/doc/4100051/Bimbingan- dan-Konseling )
[6]  W. S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, (Jakarta: Gramedia, 2005),   hlm. 27
[7] Ermis Suryana,  Op.cit., hlm. 2
[8] Fenti Hikmawati,  Bimbingan Konseling, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2010 ),  hlm. 2
[9] Zuhdiyah, Psikologi Agama, (Palembang: Rafah Pres , 2009), hlm. 38
[10] Ermis Suryana, Op.cit., hlm. 135
[11] Ibid., hlm. 136
[12] Fenti Hikmawati, Op. Cit., Bimbingan dan Konseling,  hlm. 137
[13] Ermis Suryana,  Op. Cit., hlm. 138
[14] Ibid., hlm. 140
[15] Wasty Sumanto,  Psikologi Pendidikan,  ( Jakarta: Rineka Cipta,  2006 ), hlm. 214
[16]  Maulana Aziz, Pengertian Tes, Online ( http://zhizhachu.wordpress.com/tag/pengertian-tes/ )